Old school Easter eggs.


PENDAHULUAN


Perayaan Natal, sungguh wah dan gemerlap; dengan pohon-pohon cemara lengkap digantungkan hiasan-hiasan, kerlap-kerlip lampu dan hadiah dibawahnya. Malamnya tepat pukul 24.00 dilakukan Misa (kebaktian). Rumah-rumah pun dihiasi pohon cemara, juga toko dan plasa, gedung dan kantor. Acara-acara televisi marak oleh nuansa natal. Instansi-instansi juga secara resmi merayakannya.
Begitu semaraknya perayaan tersebut, sampai-sampai, paling tidak, membawa tiga kesan : Pertama, perayaan Natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember adalah ritus yang berlandaskan nilai kebenaran. Kedua, perayaan Natal telah mencapai 'makam' gengsi- simbol status sosial. Sebuah simbol yang membanggakan bagi orang yang merayakannya atau bagi mereka yang turut "berpartisipasi". Sebaliknya mereka yang tidak "menyambut" perayaan Natal, terkesan tidak prestisius. Ketiga, Seolah-olah mayoritas penduduk negeri ini adalah kaum Nasrani. Berbeda dengan realitas perayaannya yang gemerlap, sejarah Natal 25 Desember sendiri cukup buram. Hampir dapat dipastikan bahwa tidak banyak kalangan -termasuk kaum Kristen sendiri- yang paham tentang sejarah perayaan Natal yang ditetapkan pada tanggal 25 Desember tersebut. Salah satu sebabnya adalah tidak adanya literatur yang membeberkan tentang Natal. Jikalau ada hanya memuat tentang keterangan bahwa Natal adalah perayaan orang Nasrani yang jatuh pada tangal 25 Desember sebagai peringatan hari kelahiran Yesus.

Langkanya literatur Natal sebenarnya cukup menjadi alasan untuk bersikap kritis. Benarkah Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember? Jika jawabannya adlah ya, apa dasar hukumnya? Jika tidak, bagaimana sejarah penetapan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, yang akhirnya diperingati sebagai perayaan Natal?
BACK | NEXT