Old school Easter eggs.
difan96

AL-ISLAM
Allah SWT berfirman dalam Qur’an surat Yunus: 32, yang artinya: “Dzat yang demikian adalah Allah Rabbmu yang sebenarnya. Dan tidak ada sesudah kebenaran melainkan kesesatan. Mengapa kalian bisa dipalingkan dari kebenaran?”

Ada dua prinsip utama yang bisa diambil dari ayat ini, yakni :
Hanya Allah Rabb yang benar. Selain Allah Rabb yang benar adalah bathil dan menyesatkan semua Allah lebih merinci kebenaran itu dengan firmannya :

”Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, maka janganlah sekali-kali kalian termasuk orang yang ragu- ragu” (QS Al-Baqarah:147).

Allah adalah sumber kebenaran, maka apapun yang berasal dari sumber kebenaran itu adalah pasti benar pula. Kebenaran yang berasal dari Allah yang dapat kita amati, paling tidak ada dua :

a. Ciptaan Allah
“Ya Rabb kami tidaklah Kau ciptakan semua ini dengan kebathilan maka maha suci Engkau dan peliharalah kami dari siksa api neraka” (QS Ali Imran:191)

b. Firman Allah

“Bahkan mereka (kuffar) menyatakan kalau Qur’an itu buatan Muhammad.
Tidak.
Bahkan, Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan pada kaum yang belum pernah datang pada mereka seorang pun pemberi peringatan, agar mereka mendapat hidayah” (QS As Sajadah:3)

Menyikapi Kebenaran

Rasulullah SAW mengajari kita do’a:
“Ya Rabb kami perlihatkanlah kebenaran pada kami, bahwa itu memang benar dan berilah rizqi buat kami untuk bisa mengikutinya. Dan perlihatkanlah pada kami bahwa kebathilan itu bathil, dan berilah kami rizqi pada kami untuk menjauhinya”.

Ada dua sikap yang diajarkan untuk kita dari do’a ini :

Mempelajari kebenaran Mengikuti kebenaran Atau dengan kata lain keshalehan seseorang itu bisa dilihat dari sejauh mana dia mempelajari kebenaran dan mengikutinya.

Mempelajari Ciptaan Allah. Ciptaan Allah (alam semesta dan isinya) adalah kebenaran dan di sana sarat dengan hukum-hukum pasti. Sehingga tugas manusia adalah mempelajari alam dan menemukan hukum- hukum dan sifatnya.

“Apakah mereka tak meneliti bagaimana unta diciptakan?
Dan langit bagaimana ditinggikan?
Dan bagaimana gunung ditancapkan?
Dan bumi bagaimana dihamparkan?” (QS Al-Ghasiyah:17-20)

Mempelajari Firman Allah

“Dialah yang telah mengutus di kalangan orang-orang ummi (buta huruf) seorang Rasul yang membacakan pada mereka ayat-ayatNya dan mensucikan mereka dan mengajarkan pada mereka al kitab dan hikmah. Dan sebelum itu mereka termasuk orang-orang yang sesat” (QS Al Jum’ah:2)

“Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an atau dalam hati mereka sudah tertutup?” (QS Muhammad:24)

Dengan mempelajari itu, maka manusia bisa menemukan hukum-hukum yang pasti. Dan setelah menemukannya, maka tugas berikutnya adalah mengikutinya.

Hal ini bisa berupa merekayasa benda-benda di alam sesuai dengan hukum-hukumnya sehingga bisa digunakan untuk kemaslahatan manusia. Seperti hukum gravitasi melandasi pembuatan gelas yang permukaannya di atas, gagang kaca mata ditaruh di atas telinga, dll.

Kalau manusia mengetahui alam dengan baik, dan mampu melakukan rekayasa alam sesuai hukum-hukumnya, pastilah dia akan menguasai alam ini yang dengan demikian dia akan menemukan kebahagiaan di dunia.

Disamping mengikuti kaidah hukum alam yang pasti itu, manusia juga harus mengikuti hukum yang tertuang dalam firman Allah.

Mengikuti Al-Qur’an bisa berupa rekayasa sosial dalam rangka membuat peradaban baru dengan Al-Qur’an sebagai landasannya. Kalau ini berhasil, maka Allah akan menjamin akan membuka pintu berkah dari langit dan bumi. Sebaliknya kalau tidak diupayakan, maka siksa Allah menjadi ancamannya.

“Jika sekiranya penduduk negeri- negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al-A’raf:96)

Dengan mempelajari alam dan Al-Qur’an serta mentaati hukum-hukumNya berarti dijamin bahagia di dunia dan di akhirat.
[ 1 | 1 | 2 | 189 ]
Medan - Sumatra
2010 - 2015 Difan96